Jual Font, Ikon, dan Aset Grafis: Aturan Lisensinya Beda
Font dan ikon nggak dijual seperti produk digital lain — yang dijual ruang lingkup pakai, bukan file. Ini aturan yang beda, plus jebakan font gratis yang sering bikin kena.
Semua produk digital di panduan ini punya pola yang sama: bikin satu file, jual berkali-kali, selesai begitu filenya sampai ke pembeli. Aset grafis tidak begitu.
Di font, ikon, dan aset desain, yang dijual bukan filenya. Yang dijual izin pakai. Dan izin itu punya batas: berapa komputer yang boleh install, berapa pageview per bulan, berapa unduhan aplikasi, berapa judul ebook. Dua orang bisa membeli file yang sama persis dengan harga beda sepuluh kali lipat, karena yang dibeli memang bukan barangnya.
Konsekuensinya ada dua arah. Kalau kamu membuat aset, model ini bikin satu produk bisa dijual berlapis. Kalau kamu memakai aset orang lain di dalam produkmu, model ini juga yang bikin banyak penjual pemula kena tanpa sadar.
Kenapa font nggak dijual seperti produk digital lain?
Buka halaman lisensi foundry mana pun, dan kamu nggak akan menemukan satu harga. Yang muncul daftar jenis pemakaian.
Fontfabric, misalnya, memisahkan lisensinya jadi kategori-kategori ini:
| Jenis lisensi | Dihitung berdasarkan |
|---|---|
| Desktop | Jumlah pengguna (1 sampai 200 user) |
| Web | Pageview bulanan (10 ribu sampai 2 juta) |
| App | Jumlah unduhan aplikasi (100 ribu sampai 2,5 juta) |
| Epub | Jumlah judul (1 sampai 12) |
| Server | Kuotasi terpisah |
| Broadcasting | Kuotasi terpisah |
| Gaming, OEM, Corporate | Kuotasi terpisah |
Tiap kategori punya larangan sendiri yang cukup kaku. Lisensi desktop tidak boleh di-embed dan tidak boleh dipasang di server. Lisensi web tidak boleh di-install di komputer. Lisensi app cuma boleh di-embed di aplikasi, tidak di tempat lain. Beli satu bukan berarti dapat yang lain.
Ada satu lagi yang sering kelewat: sebagian besar kategori dijual tahunan atau permanen, dan default-nya tahunan. Lisensi desktop biasanya permanen, sisanya perlu diperpanjang. Jadi ada produk digital yang literally berhenti sah kalau nggak dibayar lagi.
Kalau kamu pernah bingung kenapa klien korporat minta "font license" terpisah padahal fontnya sudah ada di komputer desainer — ini jawabannya. Lisensi desainer cuma menutupi komputer desainer. Begitu file dipakai di server klien atau di-embed ke aplikasi, itu kategori lain.
Satu unduhan, tiga lisensi — gimana bisa?
Ini bagian yang paling sering bikin salah paham, dan contoh terbaiknya ada di Font Awesome Free.
Satu paket unduhan, tiga lisensi berbeda:
| Bagian paket | Lisensi | Boleh dijual sendirian? |
|---|---|---|
| Ikon (file SVG dan JS) | CC BY 4.0 | Boleh, dengan atribusi |
| File font (web dan desktop) | SIL OFL 1.1 | Tidak boleh |
| Kode (file non-font, non-ikon) | MIT | Boleh |
Gambar ikonnya sama. Bentuknya sama. Tapi ikon yang sama itu boleh kamu jual ulang kalau yang kamu kirim SVG-nya, dan tidak boleh kalau yang kamu kirim file fontnya. Bukan karena isinya beda — karena pemiliknya memang sengaja memasang aturan berbeda untuk format berbeda.
Ada lapisan keempat juga: ikon brand. Font Awesome menyebut semua ikon brand adalah merek dagang masing-masing pemilik, dan minta supaya logo brand tidak dipakai untuk tujuan apa pun selain merepresentasikan perusahaan atau produk yang bersangkutan. Merek dagang memang tidak pernah ikut terlisensi lewat lisensi hak cipta — CC BY 4.0 sendiri menyatakan hak paten dan merek tidak termasuk yang diberikan.
Jadi pertanyaan "aset ini lisensinya apa" sebenarnya keliru. Yang benar: bagian mana dari aset ini, dalam format apa.
Boleh nggak aku jual font gratis yang aku modifikasi?
Nggak. Dan ini jebakan paling mahal di kategori ini, karena kelihatannya masuk akal: fontnya open source, kamu tambah glyph, kamu ganti nama, kamu jual. Terdengar seperti rebranding produk PLR — yang memang punya aturan mainnya sendiri.
Masalahnya, SIL Open Font License bukan PLR. Ini teks aslinya, poin 1 dari dokumen resmi OFL 1.1: font software maupun komponennya, dalam versi asli maupun versi modifikasi, tidak boleh dijual sendirian. Kata "modifikasi" ada di dalam kalimat itu. Memodifikasi bukan jalan keluar — memodifikasi memang sudah diantisipasi.
Tiga poin lain menutup sisa celahnya:
- Poin 3 melarang versi modifikasi memakai Reserved Font Name kalau pemiliknya menetapkan satu. Font Awesome, misalnya, mencadangkan nama "Font Awesome".
- Poin 5 mewajibkan font itu tetap didistribusikan seluruhnya di bawah OFL, dan tidak boleh dipindah ke lisensi lain. Jadi kamu nggak bisa membungkusnya dengan lisensi buatanmu sendiri.
- Bagian TERMINATION menyebut lisensinya batal dan tidak berlaku begitu salah satu syarat di atas dilanggar. Bukan denda, bukan peringatan — izinmu memakai font itu hilang, termasuk untuk pekerjaan yang sudah jalan.
Ini relevan buat banyak orang, karena mayoritas Google Fonts memakai OFL. FAQ resmi Google Fonts menyebut lisensi yang paling umum dipakai adalah SIL Open Font License, sebagian lain Apache atau Ubuntu Font License. Semuanya boleh dipakai komersial, termasuk di logo — tapi "boleh dipakai" dan "boleh dijual ulang" dua hal berbeda.
Font komersial berbayar lebih tegas lagi. Fontfabric melarang memodifikasi, membongkar, atau melakukan reverse engineering file font tanpa izin tertulis, dan melarang menjual ulang atau mendistribusikan ulang tanpa otorisasi.
Kalau bukan fontnya, apa yang boleh dijual?
Di sinilah letak batas yang sebenarnya, dan kabar baiknya batas ini berlaku sama untuk font gratis maupun font berbayar:
Memakai font untuk membuat desain: bebas.
Menyertakan file fontnya: terikat lisensi.
OFL menyebutnya eksplisit — kewajiban font tetap berada di bawah lisensi itu tidak berlaku untuk dokumen apa pun yang dibuat memakai font tersebut. Google Fonts menjelaskannya dengan bahasa yang lebih gampang: teks di dalam gambar bitmap atau grafis vektor boleh dimodifikasi, karena hasilnya bukan font lain, melainkan gambar dari teks. Fontfabric, dari sisi komersial, juga menyatakan kamu tetap boleh membuat desain apa pun, memodifikasi outline vektor, dan membuat karya turunan memakai fontnya.
Artinya, ini semua aman:
- Poster, ebook, dan printable yang memakai font tersebut
- Logo pelanggan
- Template Canva yang menunjuk ke font yang sudah tersedia di Canva
- Mockup dan preset yang teksnya sudah jadi gambar
Dan ini yang bikin kena:
- Menzip file
.ttfatau.otfke dalam paket "biar pembeli nggak repot" - Menjual file sumber (.psd, .ai, .indd) berikut file fontnya
- Menaruh webfont hasil konversi di CDN publik supaya pembeli bisa ikut pakai
Bedanya tipis di praktik, tapi tegas di lisensi. Kalau pembeli butuh fontnya, arahkan ke sumber resminya dan biarkan dia ambil lisensinya sendiri. Sertakan daftar font yang dipakai berikut tautannya — itu juga bikin produkmu kelihatan lebih rapi.
Kalau produkmu adalah file sumber yang butuh font tertentu, tulis itu di halaman jualan sebelum orang bayar. "Butuh font X (gratis, link di dalam)" jauh lebih baik daripada komplain setelah dibuka. Ini bagian dari kewajiban informasi yang sama seperti di syarat dan ketentuan.
Ikon dan ilustrasi aturannya sama nggak?
Beda, dan bedanya justru ke arah yang lebih longgar — dengan satu jebakan yang kebalikan dari font.
Banyak set ikon memakai Creative Commons Attribution 4.0. Teks resminya memberi izin seluas ini: lisensi berlaku sedunia, bebas royalti, non-eksklusif, dan tidak dapat dicabut, untuk memperbanyak dan menyebarkan materinya, termasuk membuat dan menyebarkan versi adaptasi. Nggak ada klausul NonCommercial. Jadi ya, dijual ulang boleh.
Syaratnya di Pasal 3, dan daftarnya lebih panjang dari yang orang kira. Kalau kamu menyebarkan materinya — termasuk dalam bentuk yang sudah dimodifikasi — kamu wajib mempertahankan identitas pembuatnya, pemberitahuan hak cipta, pemberitahuan yang merujuk ke lisensi ini, pemberitahuan penyangkalan jaminan, dan tautan ke materi aslinya. Kamu juga wajib menandai kalau kamu memodifikasinya.
Lalu ini jebakannya, di Pasal 2(a)(5)(B): kamu tidak boleh menambahkan syarat atau ketentuan tambahan yang berbeda, atau memasang pengaman teknis, kalau hal itu membatasi hak penerima berikutnya atas materi tersebut.
Baca ulang pelan-pelan, karena implikasinya besar. Kalau kamu menjual paket ikon yang isinya materi CC BY, lalu di lisensimu kamu tulis "dilarang menyebarkan ulang" atau "hanya untuk satu pengguna" — klausul itu nggak berlaku untuk ikon-ikon tersebut. Pembelimu berhak menyebarkannya lagi, dan lisensimu nggak bisa mencegah itu.
Yang tersisa buat kamu jual, kalau begitu, bukan hak eksklusifnya. Yang tersisa: kurasi, konsistensi gaya, kelengkapan format, penamaan yang rapi, file sumber yang bisa diedit. Itu nilai yang sah, dan orang memang mau bayar untuk itu. Tapi jual sebagai itu — jangan jual sebagai sesuatu yang eksklusif, karena memang bukan. Logikanya mirip dengan jualan produk PLR: yang dibeli kemudahan, bukan kepemilikan.
Lisensi apa yang harus aku tulis kalau aku yang bikin?
Kalau asetnya karyamu sendiri dari nol, kamu yang menentukan aturannya. Dan lisensi produk itu bukan syarat dan ketentuan toko. Syarat dan ketentuan mengatur hubungan jual belinya; lisensi mengatur apa yang boleh dilakukan pembeli terhadap barangnya setelah dibeli. Dua dokumen, dua fungsi.
Minimal isi lisensi aset:
| Yang harus disebut | Contoh isian |
|---|---|
| Ruang lingkup | Pribadi dan komersial, kecuali dijual ulang |
| Jumlah seat | 1 orang / 1 perusahaan / tim sampai 5 orang |
| Masa berlaku | Permanen, atau 12 bulan |
| Yang dilarang | Redistribusi file asli, sublisensi, dijual ulang apa adanya |
| Yang jelas boleh | Dipakai di produk klien, dimodifikasi, dipakai di media sosial |
| Atribusi | Wajib atau tidak |
Dua hal yang sering lupa ditulis padahal paling sering ditanya: boleh nggak dipakai untuk pekerjaan klien, dan boleh nggak dipakai di produk yang dijual lagi. Jawab keduanya di lisensi, bukan lewat chat satu-satu.
Kalau aset kamu memuat komponen orang lain — ikon CC BY, font pihak ketiga, elemen dari marketplace — pisahkan daftarnya di bagian tersendiri dan sebut lisensi masing-masing. Ini persis pola yang dipakai Font Awesome, dan alasannya praktis: pembeli jadi tahu bagian mana yang benar-benar terikat aturanmu.
Struktur berlapis ini juga membuka opsi harga yang nggak tersedia di produk digital biasa. Satu aset, tiga tingkat: personal, komersial, extended. Bahasan lengkapnya ada di cara menentukan harga produk digital.
Bagaimana kalau pembeli pakai melebihi lisensinya?
Jujur saja: untuk penjual kecil, penegakan ini sulit dan mahal. Tapi ada tiga hal yang realistis dilakukan.
Simpan bukti dari hari pertama. Fontfabric menyebut invoice pembelian adalah bukti kepemilikan lisensi, dan pembeli diminta mengisi nama pemilik lisensi serta domain saat checkout. Kamu bisa meniru itu: catat nama, domain, dan tingkat lisensi di setiap transaksi. Praktik penyimpanan bukti yang lebih lengkap ada di cara melindungi produk digital sebelum dijual.
Sadari bahwa audit itu nyata di kelas atas. Fontfabric bekerja sama dengan pihak ketiga untuk pemantauan lisensi dan rutin memeriksa basis data pemegang lisensi. Kalau kamu yang memakai font komersial di produk jualanmu, ini alasan untuk beli kategori yang benar sejak awal, bukan yang paling murah.
Pahami dasar hukumnya di Indonesia. File font adalah program komputer, dan program komputer termasuk ciptaan yang dilindungi menurut Pasal 40 ayat (1) UU 28/2014 tentang Hak Cipta, dengan masa perlindungan 50 tahun sejak pertama kali dipublikasikan. Artinya font bukan sekadar "gambar huruf" — statusnya perangkat lunak berhak cipta. Untuk pembeli dari luar negeri, aturan lintas negara punya lapisan tambahan yang perlu kamu perhatikan di syarat dan ketentuan.
Kalau asetmu sebagian dibuat dengan bantuan AI, statusnya lapisan terpisah lagi dan nggak otomatis aman. Sudah dibahas di produk digital hasil AI boleh dijual atau nggak.
Yang aku pakai sendiri di situs ini
Situs yang sedang kamu baca ini dibangun dengan dua font Google — Fraunces dan Plus Jakarta Sans — yang di-self-host lewat next/font, jadi file fontnya benar-benar dilayani dari domain ini, bukan dari server Google. Itu bentuk distribusi, dan tetap sah karena OFL membolehkan pemberitahuan lisensinya diletakkan di metadata machine-readable di dalam file biner, yang memang sudah tertanam di file yang Google distribusikan.
Ikonnya pakai Lucide, lisensi ISC, dengan sebagian hak cipta dari Feather di bawah MIT. Aturan internal proyek ini melarang emoji dipakai sebagai ikon — harus dari set ikon betulan. Alasannya awalnya soal tampilan, tapi efek sampingnya soal lisensi: satu sumber ikon, satu lisensi yang jelas, nggak ada campuran acak dari berbagai tempat yang nggak ketahuan asalnya.
Yang perlu jujur disebut: aku belum pernah menjual font atau paket ikon. Yang aku kerjakan di sini sisi pemakai — memastikan setiap aset di produk dan di situs punya jejak lisensi yang bisa ditunjukkan. Kalau kamu memang mau masuk ke jualan aset grafis, sisi penjualnya perlu riset lanjutan ke foundry atau marketplace yang kamu tuju, karena tiap platform menumpuk aturannya sendiri di atas lisensi kamu — sama seperti Canva menumpuk aturan standalone di atas template.
Kesimpulan
Aset grafis beda dari produk digital lain bukan karena lebih rumit, tapi karena unit yang dijual memang bukan file. Yang dijual ruang lingkup pemakaian, dan ruang lingkup itu bisa dipecah sampai belasan kategori.
Tiga hal yang layak diingat:
- Satu paket bisa punya beberapa lisensi. Tanya "bagian mana, format apa", bukan "lisensinya apa".
- Font gratis tidak berarti boleh dijual. OFL melarang penjualan font sendirian, termasuk versi yang sudah dimodifikasi, dan lisensinya batal total kalau dilanggar.
- Batasnya ada di distribusi, bukan pemakaian. Memakai font untuk mendesain selalu aman. Menyertakan file fontnya hampir selalu tidak.
Dan kalau kamu menjual paket yang isinya sebagian materi berlisensi terbuka, jual dengan jujur sebagai kurasi. Sebelum beli aset apa pun untuk dipakai di produkmu, lakukan hal yang sama seperti saat membaca lisensi PLR sebelum beli: buka file lisensinya dulu, baru transfer.
Sumber: SIL Open Font License 1.1 (teks resmi), FAQ Google Fonts, Font Awesome Free LICENSE.txt, CC BY 4.0 legal code, halaman lisensi Fontfabric, UU 28/2014 tentang Hak Cipta.
Pertanyaan yang sering ditanya
Boleh nggak aku jual font dari Google Fonts setelah aku ubah namanya?
Nggak boleh, dan ada dua pelanggaran sekaligus. Mayoritas Google Fonts pakai SIL Open Font License, yang di poin 1 menyebut font itu — versi asli maupun versi modifikasi — nggak boleh dijual sendirian. Poin 3 juga melarang versi modifikasi memakai Reserved Font Name kalau ada. Dan bagian TERMINATION bilang lisensinya batal total begitu salah satu syarat dilanggar.
Kalau aku pakai font gratis untuk bikin template yang aku jual, itu melanggar?
Nggak. Memakai font untuk membuat desain bukan pendistribusian font. OFL sendiri menegaskan kewajiban lisensinya tidak berlaku untuk dokumen apa pun yang dibuat memakai font tersebut, dan FAQ Google Fonts menyebut hasilnya bukan font baru melainkan gambar dari teks. Yang bikin kena itu kalau kamu ikut memasukkan file .ttf atau .otf-nya ke dalam paket jualanmu.
Ikon Creative Commons boleh dijual ulang nggak?
CC BY 4.0 membolehkan penggunaan komersial, termasuk menjual ulang, selama syarat atribusinya dipenuhi. Tapi Pasal 2(a)(5)(B) melarang kamu menambahkan syarat baru yang membatasi hak penerima berikutnya. Artinya klausul "dilarang menyebarkan ulang" di lisensimu sendiri nggak berlaku untuk ikon-ikon itu.
Kenapa harga lisensi font bisa beda jauh untuk file yang sama?
Karena yang dijual ruang lingkup pakai, bukan file. Foundry biasanya memisahkan desktop (dihitung per pengguna), web (per pageview bulanan), aplikasi (per jumlah unduhan), epub (per judul), sampai broadcast dan OEM. Satu pembeli butuh satu komputer, pembeli lain butuh dua juta pageview — filenya sama, izinnya beda.
Kalau aku bikin sendiri fontnya, lisensi apa yang sebaiknya aku pakai?
Tergantung mau dijual atau dibagi gratis. Kalau dijual, tulis EULA sendiri yang menyebut ruang lingkup, jumlah seat, masa berlaku, dan hal yang dilarang. Kalau digratiskan tapi kamu ingin tetap terkait, OFL cocok — tapi sadar konsekuensinya: siapa pun boleh memodifikasi dan mendistribusikan ulang, dan kamu nggak bisa menariknya kembali.
