tiga digit dari rumahMulai di sini

Saran Ini Terdengar Bagus. Apa yang Perlu Dicek sebelum Percaya?

Cara menilai saran yang kamu temui di internet: pisahkan klaim, alasan, dan bukti, ajukan tiga pertanyaan, lalu cek sumbernya dengan membaca ke samping.

Misalnya kamu menemukan saran seperti ini:

"Belajar pakai cara ini pasti lebih cepat. Aku sudah coba, dan hasilnya langsung kelihatan."

Kedengarannya meyakinkan. Ada pengalaman pribadi, ada kata "pasti", dan nadanya yakin. Tapi sebelum mengubah cara belajarmu, ada beberapa hal yang layak dicek.

Kalimat di atas dan semua contoh di artikel ini adalah simulasi yang dibuat untuk latihan, bukan kutipan dari akun atau produk tertentu.

Apa bedanya klaim, alasan, dan bukti?

Saran yang meyakinkan biasanya tersusun dari beberapa bagian. Memisahkannya adalah langkah pertama.

BagianArtinyaDi contoh tadi
KlaimPernyataan yang ingin kamu percayai"Cara ini lebih cepat"
AlasanKenapa klaim itu dianggap benar"Aku sudah coba"
BuktiSesuatu yang bisa diperiksa orang lainBelum ada

Begitu dipisahkan, kelihatan apa yang sebenarnya kita punya: satu klaim dan satu alasan berupa pengalaman pribadi. Buktinya belum ada. Kita tidak tahu dibanding cara apa, seberapa cepat, untuk materi apa, atau berapa lama orang itu mencobanya.

Pengalaman pribadi bukan hal yang tidak berharga. Dia bisa jadi petunjuk yang menarik untuk dicoba. Tapi pengalaman satu orang belum menunjukkan apakah hasil yang sama akan terjadi padamu.

Kata apa yang perlu bikin kita berhenti sebentar?

Beberapa kata membuat klaim terdengar lebih kuat dari buktinya. Bukan berarti klaimnya pasti salah, tapi kata-kata ini tanda untuk membaca lebih pelan:

KataKenapa perlu dicek
"Pasti", "dijamin"Hampir tidak ada cara yang berhasil untuk semua orang di semua keadaan
"Semua orang", "tidak ada yang"Klaim menyeluruh butuh bukti yang sangat luas
"Terbukti"Terbukti oleh siapa, dengan cara apa?
"Lebih cepat", "lebih baik"Dibanding apa?
"Rahasia yang tidak diberitahu orang"Mengajak percaya tanpa bisa memeriksa

Coba baca ulang contoh di awal tanpa kata "pasti": "Belajar pakai cara ini lebih cepat, menurut pengalamanku." Klaimnya jadi lebih jujur, dan lebih mudah dinilai.

Tiga pertanyaan sebelum percaya

Setelah klaim, alasan, dan bukti terpisah, ajukan tiga pertanyaan:

1. Lebih baik dibanding apa? "Lebih cepat" selalu punya pembanding, entah disebut atau tidak. Lebih cepat dari membaca ulang catatan? Dari menonton video? Dari tidak belajar sama sekali? Tanpa pembanding, klaimnya belum bisa diuji.

2. Untuk siapa, dan dalam keadaan apa? Cara yang cocok untuk orang yang belajar bahasa mungkin tidak cocok untuk orang yang belajar statistik. Cara yang berhasil untuk orang dengan waktu luang tiga jam sehari mungkin tidak masuk akal untuk orang yang cuma punya tiga puluh menit.

3. Bukti atau contohnya apa? Apa yang bisa kamu periksa sendiri? Data, hasil percobaan yang dijelaskan caranya, atau contoh dengan kondisi yang jelas. Kalau satu-satunya bukti adalah "aku sudah coba", kamu sedang menilai kesan, bukan hasil.

Kalau ketiga pertanyaan itu tidak bisa dijawab dari informasi yang ada, kesimpulannya bukan "saran ini salah", tapi "informasinya belum cukup untuk memutuskan."

Cek sumbernya: baca ke samping, bukan ke bawah

Pertanyaan berikutnya: siapa yang menyampaikan saran ini, dan apakah dia bisa dipercaya untuk topik itu?

Insting kebanyakan orang adalah membaca halaman itu lebih teliti: melihat tampilannya, membaca bagian "tentang kami", memperhatikan logonya. Ternyata cara ini sering menyesatkan.

Sam Wineburg dan Sarah McGrew dari Stanford mempelajarinya pada 45 pengguna internet berpengalaman: 10 sejarawan bergelar doktor, 10 pemeriksa fakta profesional, dan 25 mahasiswa Stanford. Mereka diminta menilai situs-situs sungguhan tentang isu sosial dan politik sambil menyuarakan pikirannya.

Hasilnya, sejarawan dan mahasiswa sering terkecoh oleh hal yang gampang dipalsukan, seperti logo yang terlihat resmi dan nama domain. Mereka membaca vertikal: tetap di satu situs untuk menilai keandalannya. Pemeriksa fakta melakukan hal yang berbeda. Mereka membaca lateral, ke samping: meninggalkan situs setelah melihatnya sekilas, lalu membuka tab baru untuk mencari tahu apa kata pihak lain tentang situs itu. Dibanding dua kelompok lain, pemeriksa fakta mencapai kesimpulan yang lebih beralasan dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Praktiknya untuk saran yang kamu temui:

  1. Jangan berlama-lama di halaman atau unggahan itu. Lihat sekilas siapa yang menulis.
  2. Buka tab baru. Cari nama orang atau situs itu. Apa latar belakangnya untuk topik ini? Apa yang ditulis orang lain tentangnya?
  3. Cari klaimnya, bukan cuma sumbernya. Apakah sumber lain yang tidak berkaitan menyampaikan hal serupa, atau justru membantahnya?
  4. Perhatikan apakah dia menjual sesuatu yang berkaitan dengan sarannya. Itu tidak otomatis membuat sarannya salah, tapi itu konteks yang perlu kamu tahu.

Kenapa saran yang cocok dengan pendapat kita lebih mudah dipercaya?

Ada satu hambatan yang datang dari dalam diri kita sendiri: kita cenderung lebih mudah menerima informasi yang mendukung apa yang sudah kita yakini, dan lebih cepat menyingkirkan yang bertentangan. Kecenderungan ini dikenal sebagai confirmation bias.

Akibatnya, tiga pertanyaan tadi sering kita ajukan dengan tegas ke saran yang tidak kita sukai, tapi kita lewati untuk saran yang cocok dengan pendapat kita. Padahal saran yang terasa "pas banget" justru perlu dicek dengan cara yang sama.

Satu kebiasaan sederhana untuk mengimbanginya: sebelum menerima sebuah saran, cari satu alasan yang menyangkalnya. Kalau kamu tidak bisa menemukan satu pun, mungkin sarannya memang kuat. Kalau kamu menemukannya dengan mudah, kamu baru saja menghindari kesimpulan yang terlalu cepat.

Kalau buktinya belum cukup, lalu apa?

Bukti yang belum cukup bukan jalan buntu. Ada tiga pilihan yang masuk akal:

  1. Tunda keputusannya. Tidak semua saran harus diputuskan hari ini.
  2. Cari informasi tambahan. Baca dari beberapa sumber yang tidak berkaitan satu sama lain.
  3. Coba dalam skala kecil, sebagai percobaan. Kalau risikonya kecil, cobalah sarannya selama beberapa hari sambil mencatat hasilnya. Dengan begitu kamu mengganti "kata orang" dengan pengamatanmu sendiri.

Pilihan ketiga yang paling sering berguna untuk saran sehari-hari, seperti cara belajar atau mengatur waktu. Kerangka tujuh hari di mulai mengembangkan diri dari rumah bisa dipakai persis untuk itu: pilih satu saran, coba, catat, lalu putuskan diteruskan atau tidak. Kalau saran yang sedang kamu nilai bersaing dengan hal lain untuk waktumu, timbang dulu manfaat dan usahanya dengan cara di kalau semuanya ingin dikerjakan, mulai dari mana.

Latihan: bedah satu saran

Ambil satu saran yang belakangan kamu temui, tentang belajar, kerja, kesehatan, atau keuangan. Lalu kerjakan di selembar kertas:

  1. Tulis klaimnya dalam satu kalimat.
  2. Tulis alasan yang diberikan.
  3. Tulis bukti yang bisa kamu periksa. Kalau tidak ada, tulis "belum ada".
  4. Jawab tiga pertanyaan: dibanding apa, untuk siapa, bukti apa.
  5. Buka satu tab baru dan cari tahu tentang sumbernya.
  6. Tulis kesimpulanmu: percaya, tidak percaya, atau belum cukup informasi.

Pilihan ketiga di langkah keenam adalah jawaban yang sah, dan sering jawaban yang paling jujur. Kalau suatu hari kamu yang perlu menyampaikan saran ke orang lain, susunan yang sama berlaku dari arah sebaliknya: sebutkan klaimmu, alasanmu, dan buktimu dengan jelas. Cara menyusunnya ada di cara menyampaikan ide supaya orang tahu apa yang kamu maksud.

Ringkasan

Saran yang meyakinkan belum tentu punya bukti. Sebelum percaya:

  1. Pisahkan klaim, alasan, dan bukti. Sering kali buktinya belum ada.
  2. Ajukan tiga pertanyaan: dibanding apa, untuk siapa, dan bukti atau contohnya apa.
  3. Baca ke samping. Tinggalkan halamannya, buka tab baru, dan cari tahu tentang sumbernya dari pihak lain.

Dan kalau informasinya belum cukup, "belum bisa disimpulkan" adalah kesimpulan yang sah.

Sumber: Wineburg, S., & McGrew, S. (2019). Lateral reading and the nature of expertise: Reading less and learning more when evaluating digital information. Teachers College Record, 121(11), 1–40. Versi PDF di Stanford Digital Repository

Pertanyaan yang sering ditanya

Bagaimana cara menilai saran yang kita temui di internet?

Pisahkan dulu tiga bagiannya: klaim (apa yang ingin kamu percayai), alasan (kenapa klaim itu dianggap benar), dan bukti (apa yang bisa diperiksa). Lalu tanyakan: lebih baik dibanding apa, untuk siapa, dan bukti atau contohnya apa. Terakhir, cek siapa yang menyampaikannya dengan mencari tahu tentang sumbernya di luar halaman itu.

Apa itu lateral reading?

Cara mengecek sumber dengan meninggalkan halaman yang sedang dibaca setelah melihatnya sekilas, lalu membuka tab baru untuk mencari tahu apa kata pihak lain tentang sumber itu. Dalam studi Wineburg dan McGrew, pemeriksa fakta profesional memakai cara ini dan mencapai kesimpulan yang lebih beralasan dalam waktu yang jauh lebih singkat dibanding sejarawan dan mahasiswa.

Apa beda klaim, alasan, dan bukti?

Klaim adalah pernyataan yang ingin kamu percayai, misalnya 'cara belajar ini lebih cepat'. Alasan menjelaskan kenapa klaim itu dianggap benar. Bukti adalah sesuatu yang bisa diperiksa orang lain, seperti data, hasil percobaan, atau contoh yang jelas kondisinya. Saran yang meyakinkan sering punya klaim dan alasan, tapi belum punya bukti.

Kalau buktinya belum cukup, berarti sarannya salah?

Belum tentu. Bukti yang belum cukup artinya kamu belum bisa menyimpulkan, bukan berarti sarannya keliru. Kamu bisa menunda keputusan, mencari informasi tambahan, atau mencobanya dalam skala kecil sambil mencatat hasilnya.