tiga digit dari rumahMulai · Rp129rb

Produk Digital Belum Laku Juga? Ini yang Normal dan Ini yang Salah

Produk digital belum laku juga? Sebagian besar penyebabnya sepele: belum ada yang benar-benar lihat penawaranmu. Ini cara mendiagnosisnya satu per satu.

Penyebab paling sering produk digital belum laku bukan produknya jelek, tapi belum ada cukup orang yang benar-benar melihat penawaranmu. Dan soal berapa lama sampai laku: nggak ada yang tahu. Siapa pun yang menyebut angka ke kamu sedang menebak. Yang bisa kamu cek adalah lima hal di bawah.

Aku Galang Aulia. Aku ngurus produk digital sebagai Product Manager, jualan produk digitalku sendiri, dan mendampingi orang yang baru mulai. Artikel ini sengaja aku tulis tanpa satu pun angka penghasilan atau tenggat "biasanya sekian minggu" — karena aku nggak punya datanya, dan menebak di depan orang yang lagi cemas itu bukan bantuan.

Berapa lama sampai produk digital pertama laku?

Nggak ada yang bisa menjawabnya dengan jujur. Bukan karena rahasia, tapi karena pertanyaannya memang nggak punya jawaban tunggal. Yang bisa aku kasih bukan angka, tapi daftar variabel yang menentukan cepat atau lambatnya.

VariabelKenapa dia menentukan
Berapa orang yang bisa kamu jangkau sekarangKalau yang kenal kamu masih sedikit, semua angka lain jadi kecil dengan sendirinya
Seberapa jelas produk ini buat siapaPenawaran yang kabur bikin orang menonton tanpa merasa dipanggil
Berapa banyak yang benar-benar sampai ke halaman produkIni yang sering dianggap sama dengan jumlah views, padahal beda jauh
Seberapa gampang cara membelinyaTiap langkah tambahan memotong orang yang sebenarnya sudah mau
Harga dibanding kepercayaan yang sudah adaOrang yang belum kenal kamu butuh alasan lebih untuk membayar duluan
Apakah kamu benar-benar pernah mengajak beliBanyak yang merasa sudah promosi, padahal cuma memberi informasi

Dua orang dengan produk yang sama persis bisa punya hasil yang jauh berbeda. Yang satu sudah punya ribuan orang yang mengikuti dia bertahun-tahun; yang satu lagi baru bikin akun bulan lalu. Angka rata-rata dari internet nggak tahu kamu yang mana, dan angka itu biasanya datang dari orang yang punya kepentingan supaya kamu buru-buru membeli sesuatu.

TODO sebelum publish: kalau nanti kita punya data agregat sendiri dari halaman checkout — berapa orang membuka halaman penawaran dibanding yang menyelesaikan pembayaran, lengkap dengan periode dan jumlah sampelnya — taruh angkanya di sini sebagai pembanding. Selama data itu belum ada, artikel ini sengaja nggak menyebut angka konversi apa pun.

Sepi di minggu-minggu awal itu normal atau tanda bahaya?

Sepi di awal itu wajar dan bukan vonis. Yang jadi masalah bukan sepinya, tapi sepi yang nggak kamu ukur — karena kamu jadi mengambil kesimpulan besar dari perasaan, bukan dari apa pun yang bisa dicek.

Ada bedanya antara belum laku dan belum diuji. Kalau baru segelintir orang yang benar-benar membuka halaman produkmu, kamu belum punya bukti apa pun soal produkmu. Kamu cuma punya segelintir orang. Menyimpulkan "produkku nggak laku" dari situ sama seperti menyimpulkan sebuah warung nggak laku setelah lima orang lewat di depannya.

Kebanyakan orang berhenti di titik ini, dan berhentinya bukan karena data. Berhentinya karena capek berharap.

Yang justru layak dianggap tanda bahaya sejak awal bukan angka penjualan, tapi tiga hal ini: nggak ada satu pun yang mengklik linkmu meski kontenmu ditonton, nggak ada yang bertanya apa pun tentang produknya, dan kamu sendiri nggak bisa menjelaskan produk ini buat siapa dalam satu kalimat. Ketiganya bisa kamu cek minggu ini juga, tanpa menunggu.

Berapa orang yang benar-benar lihat penawaranmu?

Mulai dari sini, karena inilah penyebab yang paling sering dan paling nggak seru. Hitung dulu, jangan tebak — dan hitung orang yang sampai ke halaman produkmu, bukan yang menonton kontenmu.

Jaraknya jauh. Konten dilihat banyak orang tidak berarti banyak orang melihat penawaranmu. Antara keduanya ada beberapa saringan: yang menonton, yang cukup tertarik untuk mampir ke profil, yang menemukan linknya, yang mengklik, yang halamannya kebuka sampai selesai. Tiap saringan memotong. Yang tersisa di ujung selalu jauh lebih kecil daripada dugaanmu.

Tiga hal yang bisa kamu cek hari ini:

  1. Berapa klik yang masuk ke link jualanmu bulan ini. Kalau kamu belum bisa melihat angkanya sama sekali, itu masalah pertama yang perlu dibereskan — kamu sedang jualan sambil merem. Cara memasang dan merapikan linknya ada di cara pasang link jualan di bio.
  2. Berapa kali produkmu benar-benar disebut lengkap dalam 30 hari terakhir — lengkap artinya jelas isinya apa, buat siapa, dan cara belinya gimana. Orang sering merasa "promosi terus", lalu pas dihitung, jumlahnya bisa dihitung jari.
  3. Ke mana saja orang bisa menemukan produkmu. Kalau jawabannya cuma satu tempat, dan tempat itu sedang sepi, maka seluruh jualanmu ikut sepi. Itu bukan soal produk.

Dan bagian ini yang paling sering bikin orang salah ambil keputusan: karena distribusi nggak kelihatan, orang menyimpulkan produknya yang salah, lalu bikin produk baru. Produk baru itu lalu dilihat oleh jumlah orang yang sama sedikitnya, dan siklusnya berulang.

Kalau waktumu memang sempit dan kamu cuma bisa promosi di sela-sela kesibukan, cara menyiasatinya — termasuk memilih produk yang cocok dengan jadwal yang pecah — aku bahas di jualan produk digital dari HP untuk ibu rumah tangga dan mahasiswa.

Apakah jelas ini buat siapa?

Kalau produkmu buat semua orang, nggak ada yang merasa dipanggil. Orang membeli saat merasa penawaran itu ditujukan ke dirinya, bukan saat merasa penawaran itu bagus secara umum.

Tesnya satu kalimat. Isi ini tanpa mengarang:

Ini buat [siapa] yang lagi [masalah spesifik], supaya bisa [hasil yang jelas].

Kalau kamu sendiri kesulitan mengisinya, calon pembelimu juga kesulitan. Dan orang yang bingung nggak akan bertanya — mereka scroll.

Yang bikin kalimat itu susah diisi biasanya bukan kurang pintar merangkai kata, tapi karena produknya memang belum diputuskan untuk siapa. "Ebook cara jualan online" itu buat semua orang. "Panduan menyusun etalase jualan untuk penjual makanan rumahan yang baru buka" itu buat seseorang. Yang kedua terdengar lebih sempit, dan justru itu yang bikin dia laku ke orang yang cocok.

Cara cepat mengujinya: kirim satu kalimat itu ke tiga orang yang sesuai gambaran pembelimu, lalu tanya "menurut kamu ini buat orang kayak gimana?" Kalau jawaban mereka meleset dari maksudmu, yang perlu diperbaiki penawarannya — bukan iklannya.

Apakah orang paham apa yang mereka dapat sebelum bayar?

Ketidakpastian itu alasan paling umum orang batal membeli, dan biasanya orangnya nggak bilang apa-apa. Mereka cuma pergi. Jadi tugasmu menghapus ketidakpastian sebelum sempat muncul.

Sebelum tombol bayar, ini yang seharusnya sudah bisa dilihat orang tanpa harus bertanya: bentuk filenya apa dan bisa dibuka di HP atau nggak, isinya berapa banyak dan apa saja, file dikirim gimana dan berapa lama sampai, boleh dipakai untuk apa saja — termasuk boleh dijual ulang atau nggak, kalau salah beli bagaimana, dan siapa penjualnya kalau ada masalah.

Daftar itu terlihat sepele. Tapi pembeli produk digital di Indonesia sekarang memang curiga duluan, dan curiganya masuk akal — aku tulis panjang soal itu di jualan produk digital penipuan atau bukan. Halaman penawaran yang menjawab kecurigaan sebelum ditanya melakukan pekerjaan yang selama ini kamu kira harus dikerjakan oleh promosi.

Satu pertanyaan yang enak dipakai untuk mengaudit halamanmu sendiri: kalau kamu yang jadi pembelinya, dan kamu belum kenal penjualnya sama sekali, apa yang bikin kamu ragu? Tulis jawabannya, lalu pastikan halamanmu menjawab semuanya.

Apakah cara membelinya gampang?

Setiap langkah tambahan antara "tertarik" dan "bayar" akan memotong sebagian orang. Bukan orang yang nggak niat — justru orang yang sudah niat, tapi keburu terganggu, keburu ragu, atau keburu dipanggil anaknya.

Coba hitung sendiri langkahnya dari melihat kontenmu sampai file diterima. Kalau jumlahnya banyak, tiap langkah itu tempat orang bocor. Yang paling sering aku temui: linknya belum diperbarui, orang harus DM dulu untuk tahu harga, pembayaran lewat transfer manual lalu kirim bukti, file dikirim tangan sehingga pembeli menunggu sampai kamu sempat, dan halaman yang berantakan kalau dibuka di HP.

Yang terakhir itu penting karena hampir semua pembelimu membuka penawaranmu dari HP. Buka halamanmu sendiri di HP dan beli produkmu sendiri sampai selesai. Rasakan bagian mana yang bikin kamu menghela napas — di situ juga orang lain berhenti.

Cara menutup jarak antara "mau beli" dan "file diterima" tanpa kamu harus standby seharian aku bahas di cara jualan otomatis 24 jam.

Apakah kamu sudah minta orang beli, atau cuma memberi info?

Ini pertanyaan yang paling sering bikin orang terdiam. Banyak yang merasa sudah berjualan berbulan-bulan, padahal yang mereka lakukan adalah menjelaskan. Menjelaskan itu bagus dan perlu, tapi menjelaskan bukan mengajak.

Ajakan yang jelas punya bagian-bagian yang bisa dicek: ada penyebutan produknya, ada isinya, ada untuk siapa, ada harganya, ada cara membelinya, dan ada satu alasan jujur kenapa sekarang. Kalau ada satu bagian yang hilang, orang harus bekerja untuk membeli darimu — dan kebanyakan orang nggak akan repot.

Kekhawatiran yang biasanya menahan orang: takut dianggap maksa. Wajar, dan cara mengatasinya bukan dengan nggak pernah menawarkan, tapi dengan menjaga porsinya. Prinsip campurannya sudah aku bahas di tempat lain, jadi di sini cukup satu kalimat: sebagian besar kontenmu memberi nilai, sebagian kecil menawarkan langsung — dan yang sebagian kecil itu harus benar-benar ada, bukan nol.

Menawarkan dengan jelas ke orang yang memang butuh itu bukan memaksa. Yang memaksa itu hitung mundur palsu, klaim penghasilan, dan tekanan yang dibuat-buat.

Sudah dicek semua tapi tetap sepi, harus ngapain?

Ubah satu hal dalam satu waktu. Kalau kamu mengganti harga, judul, desain, dan platform sekaligus lalu ada yang beli, kamu nggak akan pernah tahu mana yang bekerja — dan kamu balik menebak lagi.

Urutan yang menurutku paling masuk akal, dari yang paling murah dan paling sering jadi biang:

  1. Distribusi. Perbanyak orang yang benar-benar sampai ke halaman penawaran. Ini nyaris selalu yang pertama.
  2. Kejelasan. Perjelas untuk siapa dan apa yang didapat. Ini gratis dan sering berdampak paling besar setelah distribusi.
  3. Cara beli. Potong langkahnya sependek mungkin.
  4. Harga. Baru di sini, dan bukan otomatis berarti diturunkan. Menurunkan harga di sistem yang bocor cuma bikin kamu rugi lebih cepat.
  5. Produknya. Paling terakhir, dan hanya setelah empat di atas benar-benar diuji.

Satu langkah lagi yang sering dilewatkan padahal paling murah: tanya orang yang nggak jadi beli. Cari beberapa orang yang sempat bertanya, mengklik, atau tahu produkmu tapi diam, lalu tanya baik-baik — "boleh tanya, waktu itu apa yang bikin kamu urung?" Dua atau tiga jawaban jujur biasanya lebih berguna daripada berminggu-minggu menebak sendiri.

Dan aku mau jujur soal batasnya: kadang jawabannya memang produknya kurang tepat, atau orang yang kamu tuju terlalu sedikit. Itu bukan kegagalan pribadi, itu informasi. Yang mahal bukan produk yang salah — yang mahal adalah bertahun-tahun mempertahankan produk yang salah karena nggak pernah diuji dengan benar.

Kalau kamu belum punya penawaran yang layak diuji

Semua diagnosis di atas mensyaratkan satu hal: kamu punya sesuatu yang rapi untuk ditawarkan. Kalau produkmu masih setengah jadi, atau kamu belum pernah melihat dari dekat bentuk penawaran digital yang lengkap, mulai dari yang paling kecil dulu lebih masuk akal daripada memoles yang belum ada.

Lihat paket Coba Dulu — contoh penawaran digital lengkap yang bisa kamu tiru strukturnya

Kesimpulan

Nggak ada yang bisa jujur menjanjikan berapa lama sampai produk digitalmu laku, dan kamu sebaiknya curiga sama siapa pun yang mencoba. Yang bisa kamu kendalikan cuma variabelnya: berapa orang yang benar-benar melihat penawaranmu, sejelas apa produk ini untuk siapa, sejelas apa isinya sebelum orang bayar, segampang apa cara membelinya, dan apakah kamu pernah benar-benar mengajak.

Mulai dari yang pertama, karena itu yang paling sering bocor dan paling jarang dicurigai. Ubah satu hal, ukur, lalu lanjut — jangan mengganti semuanya sekaligus lalu bingung sendiri.

Kalau kamu belum bisa melihat berapa orang yang mengklik penawaranmu, bereskan itu duluan lewat cara pasang link jualan di bio. Dan kalau alasan sebenarnya kamu jarang promosi adalah karena tenagamu habis, jangan tambah frekuensi — kecilkan dulu bebannya dengan cara di konsisten posting tanpa burnout.

Pertanyaan yang sering ditanya

Berapa lama sampai produk digital pertama laku?

Nggak ada yang bisa menjawab ini dengan jujur, termasuk aku. Siapa pun yang menyebut angka ke kamu sedang menebak atau sedang jualan. Kecepatannya ditentukan variabel yang beda-beda tiap orang: berapa orang yang bisa kamu jangkau sekarang, seberapa jelas penawaranmu, berapa banyak yang benar-benar sampai ke halaman produk, dan seberapa gampang cara membelinya.

Kenapa produk digitalku nggak ada yang beli?

Penyebab paling sering justru yang paling nggak menarik: belum cukup banyak orang yang benar-benar melihat penawaranmu. Bukan produknya jelek, bukan harganya salah. Sebelum mengubah apa pun, hitung dulu berapa orang yang sampai ke halaman produkmu bulan ini. Angkanya sering jauh lebih kecil daripada yang kamu kira.

Berapa orang yang harus lihat penawaranku sebelum bisa menyimpulkan?

Nggak ada angka baku yang bisa aku kasih tanpa mengarang. Yang lebih berguna: bedakan 'belum laku' dan 'belum diuji'. Kalau baru segelintir orang yang benar-benar membuka halaman produkmu, kamu belum punya bukti apa pun tentang produkmu — kamu cuma punya segelintir orang.

Apakah harganya yang bikin produkku nggak laku?

Jarang jadi penyebab utama, dan hampir nggak pernah jadi yang pertama perlu diubah. Orang yang sudah paham produkmu buat siapa dan isinya apa jarang batal cuma karena harga. Cek dulu jangkauan dan kejelasan penawaran. Menurunkan harga di sistem yang bocor cuma bikin kamu rugi lebih cepat.

Kapan sebaiknya aku ganti produk saja?

Setelah kamu benar-benar menguji distribusi dan kejelasan penawaran, bukan sebelumnya. Dan sebelum ganti, tanya dulu beberapa orang yang tahu produkmu tapi nggak jadi beli: apa yang bikin mereka urung. Dua atau tiga jawaban jujur biasanya lebih berguna daripada berminggu-minggu menebak sendiri.